Mempersiapkan Dana Pensiun Dengan BPJS Ketenagakerjaan




apcrit.com Masa produktif adalah masa puncak dimana fisik dan mental kita menunjang untuk melakukan aktivitas yang maksimal. Dengan aktifitas yang kita lakukan kita dapat menciptakan penghasilan untuk menunjang kebutuhan atau keinginan kita. Tapi bagaimana kalau kita sudah memasuki usia pensiun, dimana kondisi fisik dan mental kita sudah menurun, dan tidak menunjang lagi untuk beraktivitas secara maksimal.

Sementara selama kita masih hidup kebutuhan itu akan selalu tetap ada. Masalah yang sering muncul di usia pensiun adalah:

1. Masalah kesehatan.

Mempersiapkan Dana Pensiun Dengan BPJS Ketenagakerjaan
Tidak dapat dipungkiri semakin tua usia kita makan kondisi dan fungsi fisik akan semakin menurun, demikian juga dengan kesehatan mental, tentunya hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan kita.

2. Masalah keuangan.

Mempersiapkan Dana Pensiun Dengan BPJS Ketenagakerjaan
Saat memasuki masa pensiun kita juga memasuki masa non-produktif. Dimana kita sudah meninggalkan pekerjaan formal kita, dan tentunya kita sudah tidak memiliki penghasilan tetap lagi. Sebaliknya, kita tetap masih memenuhi kebutuhan hidup kita, artinya masih ada pengeluaran yang masih harus kita tutupi. Pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari, pengeluaran untuk kesehatan/perobatan, pengeluran untuk kebutuhan pendidikan anak , dan sebagainya.



Untuk menghadapi situasi seperti inilah kita perlu untuk merencanakan keuangan untuk kebutuhan di masa depan atau dana pensiun. Idealnya setiap orang sudah memulai merencanakan dana pensiun ketika dia mulai bekerja. Walau kenyataannya masih banyak yang belum melakukannya, tapi tidak ada pernah ada kata terlambat dalam mempersiapkan dana pensiun. Semakin dini kita mempersiapkan dana pensiun, maka beban untuk menutupinya akan semakin ringan. Sebaliknya, akan semakin berat untuk memenuhinya saat kita memulainya dari usia 40-an.

Di usia muda, awal kita mulai bekerja, umumnya kita masih lajang. Kebutuhan yang kita kita harus penuhi lebih ke pengeluaran untuk diri kita sendiri. Setelah kita menikah dan punya anak, maka kebutuhan akan semakin bertambah.

Pemerintah sendiri, melalui BPJS Ketenagakerjaan telah melaksanakan Program Jaminan Pensiun. Dimulai sejak tanggal 1 Juli 2015, yang wajib diikuti oleh perusahaan skala besar dan menengah. Program ini melengkapi Program Jaminan Hari Tua yang sudah ada sebelumnya. Program Jaminan Pensiun dan Program Jaminan Hari Tua adalah dua hal yang berbeda.

Perbedaannya adalah sebagai berikut:
Jaminan Hari Tua merupakan tabungan yang didapat dari iuran yang dikeluarkan perusahaan dan karyawan untuk bekal karyawan tersebut di masa depan. Sedangkan Jaminan Pensiun adalah sejumlah dana yang akan dibayarkan bulanan kepada peserta untuk menunjang kebutuhan hidupnya kelak ketika sudah tidak bekerja lagi. Jaminan Hari Tua merupakan tabungan yang bisa diambil sewaktu-waktu, sedangkan Jaminan Pensiun bentuknya seperti uang pensiun yang diterima oleh pegawai negeri, yang hanya akan diterima setiap bulannya saat peserta sudah tidak bekerja lagi.

• Dari sisi iuran, Jaminan Hari Tua besarnya adalah 5,7% dari penghasilan sebulan. Dimana 2% dibayar oleh pekerja, 3,7% dibayar oleh pemberi kerja. Sedangkan iuran Jaminan Pensiun adalah sebesar 3% dari penghasilan sebulan. 1% dibayar oleh pekerja dan 2% dibayar oleh pemberi kerja.

Jaminan pensiun dalam bentuk uang tunai yang akan diterima setiap bulan biasanya diperhitungkan sesuai dengan besaran rata-rata gaji atau nominal tertentu, dan akan diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
Pensiun hari tua, diterima peserta setelah pensiun sampai meninggal dunia
Pensiun cacat, diterima peserta yang cacat akibat kecelakaan atau akibat penyakit sampai meninggal dunia
Pensiun janda/duda, diterima janda/duda ahli waris peserta sampai meninggal dunia atau menikah lagi
Pensiun anak, diterima anak ahli waris peserta sampai mencapai 23 (dua puluh tiga) tahun, bekerja, atau menikah; atau
Pensiun orangtua, diterima orangtua ahli waris peserta lajang sampai batas waktu tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Manfaat jaminan pensiun jenis ini hanya akan diberikan kepada peserta jaminan pensiun atau ahli warisnya yang telah memenuhi masa iuran minimal 15 tahun.

Bagaimana jika perusahaan tempat kita bekerja bukan merupakan mitra BPJS Ketenagakerjaan atau kategori pekerjaan kita adalah Pekerja Bukan Penerima Upah, dengan kata lain pekerja lepas atau freelance? Kita masih dapat mendaftar ke BPJS Ketenagakerjaan sebagai peserta mandiri.

Program yang dapat kita ikuti antara lain Program Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JK). Akan tetapi peserta mandiri belum dapat disertakan dalam Program Jaminan Pensiun. Peserta mandiri dapat mendaftarkan dirinya sendiri dengan menyerahkan surat-surat yang dibutuhkan. Per tanggal 8 November 2016, besaran iuran disesuaikan dengan besaran penghasilan masing-masing peserta. Pembayaran dilakukan sendiri melalui bank, maksimal tanggal 15.

Sebenarnya ada alternatif lain dalam mempersiapkan dana pensiun secara mandiri, yaitu melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), baik melalui bank atau perusahaan asuransi. Akan tetapi akan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di tengah sulitnya mencari jaminan sosial untuk proteksi diri yang terjangkau, akhirnya muncul sebuah jalan keluar untuk masyarakat Indonesia yaitu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang memiliki dua bentuk yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.