6 Etika Dalam Kehidupan




apcrit.com Apa itu etika? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlaq); kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq; nilai mengenai nilai benar dan salah, yang dianut suatu golongan atau masyarakat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989).

Sedangkan menurut Kattsoff, etika sebenarnya lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan tingkah laku manusia. (Kattsoff, 1986)

Etika berkaitan dengan pengetahuan mengenai hal yang baik dan buruk, yang diterima secara universal tanpa melihat batasan suku, ras atau kepercayaan. Etika ini penting, karena menjadi panduan moral yg universal dalam hidup bermasyarakat. Norma atau dogma adat dan agama yang mungkin berbeda-beda, dapat dipersatukan melalui etika.

Berikut beberapa etika kehidupan yang dapat kita jadikan sebagai panduan kita dalam menjalani kehidupan. Dalam kesempatan ini penulis mengulas 6 etika dalam kehidupan menurut pemikiran dari William Arthur Ward.

Harapannya dengan tulisan ini bisa menjadi membuka wawasan dan menjadi pemicu bagi kita untuk lebih mempelajari dan memahami tentang etika.

1. Sebelum berdoa, percaya dahulu (Before you pray, believe)
Berdoa, setiap hari sebagian besar dari kita mungkin melakukannya, terlepas dari kepercayaan masing-masing. Berdoa adalah sarana komunikasi antara kita dengan Tuhan, dalam doa kita sering mengungkapkan pujian, pengharapan atau permintaan kita.

Dikatakan bahwa kita harus percaya dulu sebelum berdoa artinya bahwa kita terlebih dahulu harus meyakini dan menerima terhadap kekuatan yang lebih besar dari apapun yang ada di dunia ini, yang dapat mengatur dan menentukan apapun termasuk hidup kita.

Bagaimana kita memuji Tuhan saat kita sendiri tidak mengakui kebesaranNya, bagaimana kita meminta dan berpengharapan ke Tuhan ketika kita tidak meyakini kasihNya dan meragukan kemampuanNya. Omong kosong bukan? Percaya adalah pilihan, seperti juga halnya dengan keraguan dan ketakutan. Kita dapat memilih untuk percaya atau tidak.

Dalam berdoa kita juga harus mengimani apa yang kita percaya, karena dengan iman kita akan memiliki kepercayaan dan keyakinan bahkan sebelum kita melihat wujud nyata dari kuasa Tuhan tersebut. Dengan iman kita juga akan memiliki kemampuan untuk memaafkan.

 

2. Dengarkan dahulu sebelum bicara (Before speak, listen)
Dalam berbicara selalu ada dua pihak yg terlibat. Yang berbicara dan yang mendengar. Bagaimana jika kita sibuk berbicara tetapi tidak ada yang mendengarkan atau memperhatikan. Ibarat siaran radio yang tidak laku bukan.

Berbicara dan mendengar memiliki keterkaitan yang kuat. Dimana jika kita mau omongan kita didengarkan, kita juga harus mendengar omongan orang lain.

Mendengar dalam artian aktif bukan pasif. Aktif artinya kita menggunakan indera dan perasaan kita, sehingga kita paham dengan maksud orang yang berbicara dengan kita dan memahami suasana hatinya.

Sehingga akan timbul keperdulian ataupun empati. Berbeda dengan mendengar pasif yang hanya menggunakan indera saja, yang hanya akan menjadikan kata-kata itu lewat begitu saja dari kiri tembus ke kanan.

 

3. Sebelum berbelanja, berpenghasilan dulu (Before spend, earn)
Hidup adalah selalu dibarengi dengan kebutuhan akan materi. Setiap orang berbeda-beda satu sama lain, tergantung pada kondisi atau tingkat kehidupan masing-masing.

Karena kebutuhan akan materi ini erat kaitannya dengan kemampuan keuangan, maka sewajarnya setiap orang harus memiliki penghasilan. Tidak mungkin kita memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian atau tempat tinggal tanpa memiliki penghasilan. Karena penghasilan ini tidak datang dengan sendirinya, maka orang harus bekerja.

Jaman sekarang semakin banyak kemudahan-kemudahan dalam hidup kita. Termasuk contohnya kartu kredit. Orang dapat berbelanja memenuhi kebutuhan atau keinginannya tanpa membayar terlebih dahulu.

Hal ini menjadi jebakan dan beban yang tidak putus-putus bagi sebagian orang, dimana mereka kesulitan untuk menutupi kewajiban yang timbul dari penggunaan kartu kredit tersebut.

Lebih besar pasak dari pada tiang. Artinya disini, kita harus tahu dahulu kemampuan kita sebelum memutuskan untuk memiliki sesuatu, apakah sudah layak apa belum dibandingkan dengan tingkat kehidupan kita sekarang.

Bersambung ke halaman 2.