Menguji Kelenturan Terhadap Stres – Bagian 1




Bagian 1

apcrit.com Dalam hidup sehari hari, brosis mungkin pernah menghadapi yang  tekanan dalam pekerjaan. Pekerjaan yang bertambah-tambah  terus setiap harinya seolah tidak ada berhentinya, dan tekanan ini ditambah lagi dengan tenggat waktu (deadline) pekerjaan sebelumnya yang sudah menunggu.

Akibatnya brosis mungkin harus mengorbankan sebagian dari waktu istirahat brosis untuk mengejar tenggat waktu  pekerjaan tersebut alias lembur. Respon orang-orang terhadap kondisi seperti ini berbeda-beda.

Ada yang menghadapinya dengan santai dan gembira, dan tidak mengalami adanya gangguan kesehatan. Walaupun tentunya sudah menguras tenaga dan pikiran yang tidak sedikit.

Tetapi sebaliknya, ada juga kondisi pekerjaan, dimana bisa dikatakan minim tekanan pekerjaan yang terjadi, akan tetapi dalam kondisi tersebut, brosis malah gampang mengalami stres dan lebih parahnya sampai harus mengalami penyakit-penyakit yang diakibatkan stres. Seperti maag, hipertensi, sakit persendian dan bahkan penyakit jantung.



Jadi dapat dilihat bahwa hubungan antara tekanan pekerjaan dengan terjadinya stres adalah relatif. Tidaklah mutlak. Yang menjadi faktor penentu dalam hal ini adalah tingkat kelenturan terhadap stres.

Seseorang yang memiliki tingkat kelenturan terhadap stres yang tinggi akan dapat menghadapi tekanan pekerjaan yang tinggi. Sebaliknya orang yang memiliki tingkat kelenturan stres yang rendah akan dapat terpengaruh oleh stres walaupun tekanan pekerjaan yang dialaminya minim.

Bagaimana cara mengetahui tingkat kelenturan terhadap stres ini? Tingkat kelenturan terhadap stres dapat dilihat dari respon brosis terhadap suatu kejadian atau pengalaman yang kurang menyenangkan.

Berikut ada 18 contoh situasi, brosis pikirkanlah bagaimana kira-kira brosis akan merespon apabila dihadapkan dengan situasi tersebut. Lingkari pilihan a atau b yang menunjukkan pola reaksi yang mungkin terjadi atau tidak terjadi dari setiap situasi.

1. Pada satu acara pesta, tanpa diduga brosis diminta untuk memberi sambutan.

Reaksi brosis:YaTidak
Berdebar-debarba
Gugupba
Tenangab
Maluba

 

2. Brosis diberhentikan oleh polisi lalu lintas. Padahal brosis sedang terburu-buru. Sang polisi tahu dan sengaja mengulur-ulur waktu berbicara dengan brosis.

Reaksi brosis:YaTidak
Sikap bersahabatab
Nantangba
Tangan gemetarba
Tenangab
Gelisahba
Keringat dinginba

 

3. Brosis mendapat panggilan ke salah satu instansi pemerintah. Walau brosis datang tepat waktu, brosis masih harus menunggu sampai akhirnya jadwal pertemuan yang seharusnya lewat.

Reaksi brosis:YaTidak
Benciba
Marahba
Mengendalikan diriab
Berdebar-debarba
Merasa lucuab
Telapak tangan berkeringatba

 

4. Brosis menyenggol satu botol minuman yang hampir penuh di salah satu restoran.

Reaksi brosis:YaTidak
Merasa lucuab
Maluba
Acuhba
Bicara tergagap-gagapba
Tertawa biasaab
Tersipu-sipuba

 

5. Brosis baru saja selesai makan di restoran. Ketika hendak membayar tagihan, brosis sadar bahwa dompet brosis ketinggalan di rumah.

Reaksi brosis:YaTidak
Tersipu-sipuba
Tenangab
Jantung berdebarba
Merasa lucuab
Maluba
Keringat dinginba

 

6. Brosis tertangkap basah tanpa karcis dalam satu perjalanan dengan bis atau kereta api.

Reaksi brosis:YaTidak
Tersipu-sipuba
Tenangab
Tangan gemetarba
Merasa lucuab
Maluba
Tertawa biasaab

 

7. Ban kendaraan brosis bocor di dalan besar. Brosis berupaya memarkir mobil ke pinggir jalan.

Reaksi brosis:YaTidak
Tenangab
Marahba
Keringat dinginba
Mengendalikan diriab
Tak menentuba
Berdebar-debarba

 

8. Brosis baru pulang dari berbelanja. Ketika membuka pintu rumah, brosis menemukan genangan air yang mengalir dari keran yang terbuka.

Reaksi brosis:YaTidak
Tenangab
Tangan gemetarba
Mengendalikan diriab
Tidak ambil pusingba
Marahba
Merasa lucuab

 

9. Brosis menghadapi suatu ujian. Suara penguji ketika memerintahkan brosis memasuki ruang ujian agak kasar dan lantang.

Reaksi brosis:YaTidak
Pucat pasiba
Tangan gemetarba
Tenangab
Merasa yakinab
Keringat dinginba
Khawatirba

 

10. Anda berada sendirian di dalam kamar lift. Tiba-tiba liftnya mogok antara lantai 10 dan 11.

Reaksi brosis:YaTidak
Lucuab
Tenangab
Marahba
Jantung berdebarba
Merasa tidak enakba
Tidak apa-apaab

 

11. Saat brosis kembali dari liburan ke luar negeri brosis membawa barang-barang dan oleh-oleh melebihi jumlah yang diizinkan oleh peraturan. Oleh petugas bea cukai brosis disuruh untuk membuka tas.

Reaksi brosis:YaTidak
Tenangab
Marahba
Merasa yakinab
Takutba
Keringat dinginba
Tangan gemetarba

 

12. Dalam satu diskusi, brosis dicemoohkan oleh semua orang sebab mereka menganggap ide-ide brosis itu gila dan kacau.

Reaksi brosis:YaTidak
Tersipu-sipuba
Lucuab
Tenangab
Marahba
Mengendalikan diriab
Maluba

 

13. Brosis berdebat dengan seorang terman dekat yang diakhiri dengan ucapan “Saya tidak mau berurusan lagi dengan kamu”.

Reaksi brosis:YaTidak
Nantangba
Tenangab
Lucuab
Tidak menentuba
Berdebar-debarba
Mengendalikan diriab

 

14. Brosis telah mengirimkan surat lamaran untuk pekerjaan yang baru dan telah dipanggil untuk interview dengan menejer personalia. Dia menyapa brosis dengan kata-kata berikut “Surat lamaran anda sebenarnya belum menunjukkan satu awal yang cukup baik.”

Reaksi brosis:YaTidak
Tidak menentuba
Tenangab
Bicara tergagap-gagapba
Tersipu-sipuba
Tahan diriab
Maluba

 

15. Brosis sedang berada di pesta, sedang berdansa. Pasangan brosis mengatakan “Penampilanmu tidak terlalu bagus, betul ngga?”

Reaksi brosis:YaTidak
Lucuab
Maluba
Marahba
Tersipu-sipuba
Tahan diriab
Tertawa biasaab

 

16. Dalam satu diskusi seseorang berkata lantang kepada brosis, “Saya ragu jika anda punya buah pemikiran sendiri.”

Reaksi brosis:YaTidak
Nantangba
Mengendalikan diriab
Maluba
Keringat dinginba
Tahan diriab
Bicara tergagap-gagapba

 

17. Dalam satu percakapan brosis keceplosan sehingga teman bicara brosis menjadi tahu bahwa brosis menggunakan laporan-laporan palsu dan bohong untuk keuntungan brosis.

Reaksi brosis:YaTidak
Maluba
Tersipu-sipuba
Bicara tergagap-gagapba
Tahan diriab
Lucuab
Tangan gemetarba

18. Atasan brosis kurang puas dengan hasil pekerjaan brosis dan mengkritik brosis.

Reaksi brosis:YaTidak
Tenangab
Tersipu-sipuba
Mengendalikan diriab
Tak menentuba
Tergagap-gagapba
Senyum terpaksa karena maluba

 

Untuk menilai tes di atas, brosis jumlahkan semua “a” yang brosis lingkari. Totalnya adalah skor brosis. Kemudian periksa tingkat kelenturan terhadap stres brosis pada kategori di bawah ini, menurut kelompok usia brosis.

UsiaNilaiTingkat kelenturan
14-16 tahun96-108sangat kuat
88-95kuat
73-87sedang sampai kuat
47-72Sedang sampai lemah
0-46lemah

 

UsiaNilaiTingkat kelenturan
17-21 tahun98-108sangat kuat
90-97kuat
70-89sedang sampai kuat
50-69Sedang sampai lemah
0-49lemah

 

UsiaNilaiTingkat kelenturan
22-30 tahun100-108sangat kuat
88-99kuat
66-87sedang sampai kuat
50-65Sedang sampai lemah
0-49lemah

 

UsiaNilaiTingkat kelenturan
Diatas 30 tahun104-108sangat kuat
92-103kuat
70-91sedang sampai kuat
50-69Sedang sampai lemah
0-49lemah

 




Hasil analisa tes brosis adalah sebagai berikut:

Sangat kuat, artinya: tingkat kelenturan terhadap stres brosis sangat tinggi. Hampir tidak mungkin untuk mempermalukan anda.

Kuat, artinya: tingkat kelenturan terhadap stres brosis termasuk tinggi. Ketenangan emosi stres anda juga termasuk tinggi. Ketenangan anda tidak gampang goyah. Sekalipun sesekali brosis harus mengalah tetapi brosis jarang dipermalukan.

Sedang sampai kuat, artinya: tingkat kelenturan emosi brosis berada dalam batas-batas normal, cenderung dapat berkembang menjadi kuat.

Sedang sampai lemah, artinya: tingkat kelenturan emosi brosis berada dalam batas-batas normal, namun cenderung mengarah ke lemah. Dalam situasi yang menegangkan brosis sesekali bisa hilang keseimbangan dan ketenangan. Brosis cenderung gusar dan kerja keras akibat melakukan kesalahan dan cenderung kehilangan keseimbangan emosi.

Lemah, artinya: apabila brosis dihadapkan dengan situasi yang kurang menyenangkan, brosis cenderung menjadi risih dan malu.

Lebih lanjut lagi akan kita bahas dalam artikel Menguji Kelenturan Terhadap Stres (bagian 2).

 

Sumber:

Anda Sanggup Mengatasi Stres, Dr. Armand T. Fabella (Indonesia Publishing House, 1993)