Menguji Kelenturan Terhadap Stres – Bagian 2

Image parts from Vecteezy

Bagian Dua




apcrit.com Seperti yang kita bahas sebelumnya dalam artikel Menguji Kelenturan Terhadap Stres – Bagian 1? bahwa respon manusia terhadap suatu tekanan atau situasi adalah relatif berbeda. Perbedaan ini dikarenakan oleh tingkat kelenturan terhadap stres yang berbeda-beda satu sama lainnya. Ada yang kuat menghadapi tekanan tetapi ada juga yang lemah.

Menurut Suzanne C. Kobasa dan Salvadore R. Maddi apa yang menjadi pembedanya adalah kepribadian yang tangguh. Kepribadian yang tangguh akan menghasilkan keteguhan jiwa, yang tidak akan mudah masuk ke dalam tekanan stres. Tubuhnya akan menghambat respon fisiologi tubuh yang terjadi akibat kejadian-kejadian menegangkan dalam hidup. Ini akan mengurangi peluang untuk jatuh sakit sebesar 50%.

Kepribadian yang tangguh

Menarik juga apa yang disebut dengan kepribadian yang tangguh ini ya brosis. Karena pastinya kebanyakan dari brosis ga ada yang mau menjadi orang cemen bukan, pasti maunya menjadi orang yang kuat yang tahan terpaan ombak laut selatan…ciieee …hehehe.

Apa sih yang menjadi ciri-ciri kepribadian yang tangguh ini brosis?

Berdasarkan pengamatan para peneliti, manusia yang tangguh memiliki tingkat kelenturan terhadap stres yang tinggi, yang mengakibatkan pribadi tersebut tahan terhadap tekanan stres. Mereka memiliki prespektif sendiri terhadap keterbukaan hidup, terhadap perubahan dan terhadap rasa tanggung jawab.



Dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki 3 ciri prinsip khas dalam menghadapi tekanan atau perubahan kondisi, yaitu:

1. Tantangan bukan ancaman, mereka menganggap perubahan situasi atau kondisi sebagai tantangan bukan ancaman.

2. Bertanggung jawab, menghadapi setiap tantangan/perubahan kondisi, tidak menghindar, tidak berlepas tangan atau tidak bersikap cuek.

3. Mengendalikan, dalam menghadapi setiap tantangan/perubahan kondisi akan selalu berupaya, tidak gampang menyerah dalam ketidak berdayaan.

Dari ketiga ciri ini, penelitian Maddi tersebut di atas menemukan bahwa prinsip menerima tekanan atau perubahan kondisi sebagai tantangan adalah faktor pelindung yang memiliki peran paling utama. Kemudian diikuti dengan tanggung jawab.

Orang yang menerima tekanan sebagai tantangan bersedia menerima resiko tertentu sebagai suatu konsekuensi (tetapi bukan resiko yang tidak terukur ya brosis), mereka pasti sebelumnya sudah memikirkan resikonya, karena mereka cenderung memiliki niat untuk mengubah suatu tekanan, petaka atau ketidak nyamanan menjadi suatu keuntungan atau kelebihan. Mekanisme ini yang akhirnya dengan sendirinya menurunkan kadar stres mereka.

Sebaliknya, mari kita lihat reaksi dari orang-orang yang kurang tangguh kepribadiannya. Mereka akan berusaha menghindar dari tekanan dengan berbagai cara. Ada yang menggunakan minuman keras atau obat-obatan, berlagak sakit supaya bsa mangkir kerja (pernah ngalamin ya brosis…hehehe), menyalahkan orang lain atau ngeles. Mengkonsumsi banyak kopi dan rokok biasanya juga menyertai upaya penghindaran ini.

Secara tidak sadar mereka semakin menjauh dari solusi, karena tekanan atau permasalahan tidak serta-merta hilang dengan upaya penghindaran yang sudah mereka lakukan. Tekanan atau permasalahan itu masih ada, karena mereka hanya memalingkan muka atau pandangan saja, bukan menghadapi dan menyelesaikannya. They still have to face it. Akibatnya mereka akan mengalami gangguan dalam keseimbangan emosi dan ketenangan.

Dalam hal tanggung jawab, orang dengan kepribadian tangguh akan melibatkan diri dalam kegiatan hidup dan tidak terkucil dari masyarakat. Berperan serta dan melibatkan diri dalam pekerjaan maupun tanggung jawab dalam keluarga. Mereka menganggap kegiatan ini menarik dan penting. Orang-orang seperti ini memiliki pengaruh yang nyata terhadap lingkungannya.


Hidup Seimbang

William Gladston menekankan usaha dalam menjaga tingkat adaptasi normal tubuh dalam menghadapi tekanan atau perubahan kondisi/situasi. Menurutnya, tingkat adaptasi normal ini dapat dijaga dengan hidup yang seimbang.

Menurut William Gladstone “hanya dengan hidup yang seimbang seorang individu dapat terlindung dari stres yang merugikan dan bahaya ketergantungan terhadap sesuatu.”

Kita hidup dalam suatu lingkaran kehidupan, yaitu bekerja, kasih, dan bermain. Dengan melibatkan diri secara seimbang ketiga aspek lingkaran hidup ini akan tercapai keseimbangan hidup.

Seseorang yang menempatkan seluruh perhatiannya dalam bekerja tanpa memikirkan kasih (keluarga) dan bermain (hobi, bersosialisasi, persahabatan), akan menalami penurunan dalam kemampuan adaptasinya, tingkat kelenturan terhadap stres akan berkurang.

Seseorang yang menganggap bahwa eksistensi dirinya yang paling utama adalah diukur melalui suatu prestasi kerja, dan hanya bekerja keras untuk mengejar prestasi tersebut tanpa mengindahkan yang lain, akan merasakan kehilangan makna hidup ketika pekerjaan itu diambil dari dirinya (contoh akibat masalah kesehatan atau rasa bosan dan jenih dengan pekerjaan tersebut), akibatnya dia akan merasa kehilangan gairah, bingung dan merasa tidak mampu berfungsi sebagai mestinya.

Hal ini juga berlaku dengan dua aspek dari lingkaran kehidupan lainnya yaitu kasih dan bermain.

Bagaimana Brosis, tentunya juga mau menjadi orang yang memiliki tingkat kelenturan terhadap stres yang tinggi, dan tidak menjadi orang cemen dan mudah patah semangat, dan menjadi individu yang lebih baik lagi.

Kami berharap artikel ini dapat membantu brosis dan juga buat kami sebagai penulis.

Sumber :

Anda Sanggup Menghadapi Stres, Dr Armand T. Fabella, Indonesia Publishing House, 1993