Apakah Kita Bisa Merasa Bahagia Selamanya?

Image parts from Vecteezy




apcrit.com “They finally live happily forever and ever”

Dulu Brosis pasti sering membaca kalimat ini pada ending cerita dongeng. The finally live happily forever and ever, mereka akhirnya hidup bahagia selamanya.

Kita cenderung terdoktrin oleh kalimat-kalimat seperti ini sehingga kitapun akhirnya cenderung mengartikan kebahagiaan itu sebagai sesuatu yang berlangsung terus menerus, setiap saat, setiap jam, setiap hari. Pertanyaannya, apakah itu mungkin? Seperti dalam dunia dongeng anak-anak tadi?

Seperti yang kita bahas dalam artikel Mencapai Kebahagiaan Bukan Mengejar Kebahagiaan, kebahagiaan itu tidak terlepas dari rasa senang dan tenteram. Rasa senang lahir dari rasa kecukupan atas pemenuhan keinginan atau kebutuhan kita, rasa tenteram yang ditimbulkan oleh perasaan aman dan nyaman, yang dilandasi oleh rasa bersyukur atas semua yang kita alami, senang maupun susah.

Selama kita masih hidup, apakah kita bisa merasa tercukupkan atau merasa tenteram setiap saat? Tentu tidak bukan. Akan selalu ada permasalahan atau kesusahan yang kita hadapi, yang pastinya akan mengurangi atau mengambil alih kesenangan yang kita sedang rasakan.  Dengan demikian kebahagiaan kita pastinya juga akan terusik.

Kita juga punya anggapan bahwa orang-orang besar yang  memiliki pencapaian lebih dibandingkan orang-orang biasa, akan merasa bahagia sepanjang waktu. Artis-artis besar, orang-orang besar yang sukses dalam karir maupun usaha mereka, orang-orang terkaya didunia, anggapan kita mereka pasti selalu bahagia, segala kebutuhannya sudah pasti senantiasa terpenuhi dan mereka  punya kuasa lebih dibandingkan orang lain.

Anggapan ini salah dan harus kita buang dari pemikiran kita, karena kebahagiaan itu tidak berbanding lurus dengan pencapaian seseorang. Setinggi apapun pencapaian seseorang, hidupnya juga pasti tidak terlepas dari permasalahan atau rasa sedih maupun kehilangan.

Jadi jelas bahwa kita tidak akan bisa merasa bahagia setiap saat, akan tetapi kita dapat merasa bahagia sesering mungkin. Bagaimana caranya brosis? Pertama, kita harus bisa mengubah perspektif kita tentang hidup yang sempurna.

Dimana kita selalu menginginkan hidup sempurna, dengan pencapaian yg kita idam-idamkan dan tanpa diwarnai oleh kesusahan atau permasalahan.  Sebaliknya kita harus menanamkan pemikiran bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya kehidupan yang sempurna.



Hidup adalah pasang surut dari kesenangan dan kesusahan.

Setiap saat kesenangan bisa tergantikan dengan masalah atau kesusahan, demikian juga sebaliknya. Dan kita tidak punya kuasa untuk mengatur itu.  Akan tetapi, apabila kita memiliki rasa bersyukur, dalam semua situasi baik susah maupun senang, semua permasalahan dan kesusahan tersebut dapat menjadi keuntungan buat kita.

Sebab, dengan adanya permasalahan dan kesusahan itulah kita akan lebih mengenal siapa diri kita. Kita juga akan belajar berempati kepada orang lain, yang memiliki permasalahan atau kesusahan yang sama dengan kita. Sehingga kitapun akan semakin bertumbuh dan semakin mengerti akan makna kebahagiaan itu sendiri.  Dan dalam diri kita akan timbul kekuatan dalam  menghadapi dan menyelesaikan permasalahan ataupun kesusahan tersebut.

Memaknai dan bersyukur atas pasang surut kehidupan, susah dan senang, menjadikan pribadi brosis semakin bertumbuh, itulah makna sebenarnya dari kebahagiaan.

Kebahagiaan itu adalah perjalanan, bukanlah tujuan.

Sumber:

Lifehack.org