Mencapai Kebahagiaan Bukan Mengejar Kebahagiaan

Image parts from Vecteezy & IMDB




apcrit.com Semua orang pasti mencita-citakan dan menginginkan kebahagiaan.
Terlepas dari makna kebahagiaan bagi masing-masing orang yang pasti berbeda satu sama lain. Sebagian besar orang mengaitkan kebahagiaan dengan harta, jabatan atau pencapaian hidup tertentu, dan merasa tidak bahagia sebelum mencapainya.

Sebagian lagi sudah merasa mencapai kebahagiaan ketika sudah bisa mencukupi segala kebutuhan pokoknya dan terhindar dari segala penyakit.

“Teman kita si anu hidupnya pasti senang dan bahagia, dapat jabatan penting di salah satu BUMN, punya istri cantiknya kaya artis, belum lagi mobil dan rumah barunya,  cantik dan mewah sama kaya istrinya. Duh…kapan kita bisa hidup enak  seperti dia ya. Hidupnya pasti bahagia banget?”

Kalimat seperti ini biasa kita dengar  atau kita ucapkan dalam hidup kita sehari-hari. Dari kalimat di atas dapat kita lihat bagaimana kita mendefinisikan “kebahagiaan” akan tetapi dengan menggunakan dasar pencapaian orang lain. Apakah hal seperti itu dapat dibenarkan? Mari kita bahas lebih lanjut ya.

Apa sih arti kata kebahagiaan itu?

Menurut KBBI :

bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan): — dunia akhirat; hidup penuh –; 2 a beruntung; berbahagia: saya betul-betul merasa — karena dapat berada kembali di tengah-tengah keluarga;

berbahagia/ber·ba·ha·gia/ a 1 dalam keadaan bahagia; bahagia; 2 v menikmati kebahagiaan; bahagia;

membahagiakan/mem·ba·ha·gi·a·kan/ v 1 menjadikan (membuat) bahagia: ia berusaha keras – keluarganya; 2 mendatangkan rasa bahagia: kehadirannya sangat – keluarganya;

kebahagiaan/ke·ba·ha·gi·a·an/ n kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin: kehadiran bayi itu mendatangkan – dalam rumah tangganya; saling pengertian antara suami dan istri akan membawa – dalam rumah tangganya

 
Dari pengertian di atas kebahagiaan itu terdiri dari kata senang dan tenteram, lahir maupun batin.

Tidak ada kebahagiaan tanpa rasa senang. Tidak ada kebahagiaan tanpa rasa tenteram. Senang dan tenteram keduanya adalah indikator kebahagiaan yang saling terkait.

Dari contoh sebelumnya di atas, dapatkah kita memastikan bahwa si “Anu” telah mencapai kebahagiaan?

Terkait dengan indikator kesenangan, pastilah si “Anu” tersebut sudah mendapatkan kesenangan dari pencapaian dan segala  kemudahan hidup yang dia telah nikmati, sebagai buah dari pencapaian tersebut. Akan tetapi bagaimana dengan rasa tenteram?

Apakah dia sudah merasa hidupnya tenteram? Kita jarang mempertimbangkannya indikator ini bukan, apalagi  tenteram atau tidak hanya si “Anu” sendiri yang tahu. Mendefinisikan suatu kebahagiaan hanya dari sisi kegembiraan atau kesenangan semata saja adalah kesalahan dan sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita. Akibatnya adalah banyak yang salah arah.

Niatnya mencapai kebahagiaan akan tetapi secara tidak sadar hanya mengejar kesenangan atau kegembiraan semata. Hidup senang sudah pasti bahagia, katanya. Kesenangan yang dimaksud disini adalah terkait dengan materi dan pengakuan dari orang lain.

Anggapannya, dengan sejumlah materi yang cukup, akan bisa menikmati hidup sekaligus mendapat pengakuan dan penghormatan dari orang-orang sekitar.

Akibatnya, banyak yang  mencari jalan pintas untuk mencapai kesenangan ini.  Korupsi untuk mendapatkan materi yang cukup dan status sebagai orang terpandang, jual-diri untuk mengejar pemenuhan akan gaya hidup, merampok untuk bisa berfoya-foya dan banyak lagi kelakuan-kelakuan tidak pantas lainnya.

Semuanya  bahkan dilakukan tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu lagi. Tersesat dalam mengejar kebahagiaan dan nuraninya pun semakin buram dan akhirnya hilang.

Kalau sudah begini ketentraman pun sudah menjauh dari hidupnya, mencapai kebahagiaan sebenarnya pun tinggal hanya sebatas angan saja.

Ada lagi contoh, dimana orang mencapai kebahagiaan  hanya dengan dengan mengejar pemenuhan materi.

Si “Anu” yang terobsesi dengan pencapaian tetangganya, yang memiliki materi yang berkecukupan dan status sebagai pejabat. Si “Anu”  pun berusaha untuk memperoleh pencapaian yang sama. Si “Anu”  pun bekerja sekuat tenaga, mencurahkan semua waktu dan pikirannya.

Prestasi kerja dengan imbalan suatu jabatan yang akan dapat menjamin kecukupan akan pemenuhan materi adalah targetnya.  Si “Anu”  berharap dengan materi yang diperolehnya nanti Si “Anu” bisa membahagiakan keluarganya dan sekaligus kebanggaan tersendiri dengan mencapai jabatan yang dia idamkan. Dan akhirnya jabatan yang Si “Anu” inginkan pun tercapai.

Akan tetapi, akhirnya Si “Anu” jatuh sakit, karena selama ini terlalu menguras tenaga dan pikirannya, tanpa mengindahkan waktu istirahat dan bersantai. Keluarganyapun kacau balau akibat selama ini kurang mendapat perhatian dari Si “Anu”.

Istrinya selingkuh, anaknya masuk penjara gara-gara kasus narkoba. Kalau sudah begini ketentraman pun sudah menjauh dari hidupnya, mencapai kebahagiaan sebenarnya pun tinggal hanya sebatas angan saja.



Mencapai Kebahagiaan Bukan Mengejar Kebahagiaan

Apa yang membuat seseorang bahagia?

Dalam bukunya, “Being Happy: A Handbook to Greater Confidence and Security,” Andrew Matthes menyatakan bahwa yang menentukan kebahagiaan kita bukanlah apa yang terjadi pada kita, melainkan bagaimana reaksi kita terhadap hal-hal yang terjadi pada kehidupan kita.

Kita bertanggung jawab atas kebahagiaan itu sendiri. Untuk dapat bahagia fokuskan pikiran kita pada pikiran-pikiran yang membahagiakan. Dan kita adalah pengendali atas pikiran kita sendiri.

Untuk itu kita harus dapat memaknai arti kata “cukup” secara bijak dan memiliki rasa bersyukur.  Ini adalah terkait dengan pencapaian atas kesenangan yang menjadi salah satu indikator kebahagiaan. Karena “cukup” sebenarnya adalah relatif.

Cukup buat saya belum tentu cukup buat anda bukan? Akan tetapi kita harus belajar untuk menentukan batas “cukup” atas kesenangan yang kita sudah peroleh, sesuaikan dengan batas kemampuan dan kondisi kita sendiri.

Janganlah brosis berharap bisa memberikan mobil buat setiap anak brosis, seperti tetangga sebelah yang suaminya seorang Direktur perusahaan BUMN, sedangkan brosis sendiri hanya seorang staf di sebuah perusahaan swasta menengah saja. Satu mobil buat keluarga brosis cukuplah. Tidaklah bijak apabila kita menaikkan level kata “cukup” ini di atas level kemampuan kita. Maksa itu namanya brosis…hehehe.

Bagaimana dengan rasa syukur. Apa peranannya dalam pencapaian kebahagiaan ini? Rasa syukur adalah sangat penting brosis. Dengan memiliki rasa syukur, baik atas peristiwa senang maupun susah yang terjadi selama ini dalam hidup kita, kita akan memiliki kesadaran diri, sadar akan kelebihan dan kekurangan kita sendiri dan mawas diri. Dengan mawas diri kita akan bisa mengendalikan pikiran dan keinginan kita sendiri.

Akhir kata, kebahagiaan itu bukan hanya proses pencapaian kesenangan hidup saja (lahir maupun batin) akan tetapi juga merupakan buah dari pembelajaran pikiran dan mental  kita untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana dan bermartabat, sehingga kesenangan hidup yang kita sudah capai akan disertai dengan ketentraman hidup.

So, keep happy brosis dan jangan lupa bahagia 😉