Pendekatan Teori Situasional Kepemimpinan (The Situational Theory of Leadership)




apcrit.com Pada dasarnya tak seorang pun yang dilahirkan dimuka bumi ini langsung menjadi seorang pemimpin, namun itu semua tergantung pada situasi dan keadaan.

Bahkan seorang anak raja pun belum tentu dapat menjadi pemimpin yang efektif. Jadi dalam beberapa situasi khusus dapat timbul sosok seseorang pemimpin, walaupun dalam situasi berbeda akan tergantikan kembali. Memang terkadang tidak ada gunanya kita membahas kepemimpinan lebih jauh berdasarkan pola umum.

Karena berdasarkan pendekatan kondisi situasional kepemimpinan-lah biasanya seseorang sering dipilih, ditentukan atau muncul sebagai seorang pemimpin.

Sebuah teori situasional kepemimpinan oleh W.O. Jenkins dalam buku Jhon Adair menyimpulkan bahwa “ kepemimpinan adalah spesifik pada situasi tertentu menurut penyelidikan. Siapa yang menjadi seorang pemimpin dari suatu kelompok tertentu, melibatkan aktivitas yang khusus pula, dan ciri ciri yang diberikan adalah fungsi dari situasi yang spesifik…..”.



Pendekatan lain dapat kita lihat berdasarkan pentingnya pengetahuan untuk mengatasi situasi yang spesifik dimana diperlukannya wewenang yang berasal dari orang yang mengerti akan kondisi yang sedang dihadapi.

Menurut teori Jhon Adair ada tiga jenis wewenang kerja seorang pemimpin dalam situasi tertentu, antara lain:

  1. Wewenang jabatan. Biasanya memiliki wewenang memberi hak kerja, menaikkan atau mengangkat posisi atau jabatan seseorang. Kebiasaan lama bila diperhatikan pemimpin banyak yang hanya ingin menjadi pemimpin saja, namun saat ini para pemimpin harus mulai memikirkan wewenang kedua dan ketiga
  1. Wewenang kepribadian. Biasanya dapat terlihat dari pengaruh sifat sifat pembawaan, dimana seorang pemimpin harus memiliki kepribadian yang bagus dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi situasi kelompoknya ataupun perilaku orang lain.
  1. Wewenang pendidikan. Biasanya memiliki kemampuan teknis dan profesional, dimana seorang pemimpin harus memiliki kemampaun dasar mengenai situasi dan kegiatan kelompoknya agar dapat menguasai dan menjadi ahli dalam kelompok yang akan dia pimpin.

Berbeda dengan teori situasional kepemimpinan yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard. Dimana menurut mereka kepemimpinan situasional ‘didasarkan pada saling berhubungannya diantara hal-hal berikut : Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan, jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan dan tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukan dalam melaksankan tiugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu’ (Thoha, 1983:65).

Pandangan ini dijelaskan pada bagan  jaringan berikut dimana hubungan antara pemimpin dan pekerja sesuai situasional membutuhkan hubungan saling agar dapat mencapai tujuan.

( Diagram Model Kepemimpinan Situasional )

Pendekatan Teori Situasional Kepemimpinan (The Situational Theory of leadership)

 

Untuk memahaminya teori situasional kepemimpinan berdasarkan yang telah kita sebutkan diatas, mari coba kita pahami melalui contoh kasus berikut ini :


Seorang Sarjana Teknik sebut saja si Insinyur Barakuda telah bekerja selama 12 tahun di showroom otomotif, dan memiliki jabatan kepala bagian, dia mampu mengusai semua mekanikal dan pemasaran produk otomotif tempat bekerja.

Biasanya tempat dia bekerja dalam waktu 5 tahun akan melakukan pergantian jabatan. Kemampuan teknisinya dan berinteraksi kepada konsumen sangatlah baik, namun ketika ada pemilihan jabatan seorang pemimpin di showroom otomotif tersebut, pilihan tidak jatuh di tangannya.

Ditinjau dari situasi dia seharusnya yang ideal diangkat menjadi pimpinan, namun dia tidak terpilih. Kemudian semangat kerjanya menurun sehingga produktifitas pun ikut menurun, ia mula tidak konsentrasi dengan pekerjaannya.

Tak lama tempat dia bekerja mengalami situasi penurunan pendapatan perusahaan dan kredibilitas kerja kepemimpinan yang baru, kekecewaanya karena tidak terpilih dia balas dengan mempelajari apa yang menjadi sebab hal tersebut terjadi dan kemudian mengambil keputusan yang tepat untuk melewati masa penurunan kredibilitas kerja tersebut.

Insinyur Barakuda berupaya untuk memahami teman sekerja dan sesuai dengan pengaruh kekuasaannya pada posisi lama, berusaha semampunya menempatkan kemampuan keahlian teman kerja pada posisi yang sesuai. Sampai akhirnya situasional perusahaan tersebut mulai kembali ke kondisi semula.

Karena situasi yang menguntungkan bagi perusahaan, maka dari keberhasilannya dalam meningkatkan kembali penghasilan tempat bekerja dia kemudian dipilih menjadi seorang pemimpin.


Pengetahuan teori pendekatan situasional kepemimpinan oleh seorang pemimpin dapat berpindah dari suatu kelompok kerja ke kelompok kerja lain, namun kamu harus terlebih dahulu mempelajari situasi lingkungan baru tempat kamu bekerja.

Karena untuk menjadi seorang pemimpin, kamu harus memiliki tempramen yang ramah, sifat kepribadian dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh situasi tempat kamu bekerja.

Kemampuan teknis dan kemampuan profesional adalah kunci kewibawaan kamu. Tetapi menciptakan hubungan yang baik  kepada anak buah juga diperlukan agar kamu dapat mengetahui kemampuan dan sifat mereka serta menentukan perintah yang tepat sesuai dengan keahlian mereka masing masing.

Bahkan keahlian khusus dalam pekerjaan saja tidak cukup, kecakapan umum juga dibutuhkan. Hal ini disebabkan fokus seorang pemimpin yang memiliki wewenang kepemimpinan, pengambil keputusan, dan komunikasi. Dimana kepemimpinan yang efektif merupakan keberhasilan seorang pemimpin yang mampu mengadaptasikan cara pendekatan agar sesuai dengan situasi yang diinginkan.

Sumber

John Adair, 1993, Kepemimpinan Yang Efektif , Semarang, Penerbit Dahara Prize

Thoha, Miftah. 1983. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers.

https://www.kajianpustaka.com/2016/04/gaya-kepemimpinan-situasional.html