Skandal kebocoran data Facebook – Cambridge Analytica




apcrit.com Jaman sekarang ini aktifitas di jejaring sosial atau lebih sering dianalogikan sebagai “Dunia Maya”, seperti Facebook,Twitter atau Instagram, sudah merupakan hal yang wajar. Interaksi dengan berbagai orang tanpa dibatasi oleh jarak, waktu dan biaya, menjadikan sosial media menjadi sesuatu yang wajib untuk digunakan, terutama Facebook dengan berbagai fungsi unik yang dimilikinya.

Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa Universitas Harvard, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Awalnya hanya digunakan untuk kalangan sendiri yaitu sesama mahasiswa Harvard, dan penggunanya kemudian berkembang pesat hingga September 2014 pengguna aktif Facebook diperkirakan lebih dari 1 (Satu) milyar orang.

Pengguna harus mendaftar sebelum dapat menggunakan situs ini. Setelah itu, pengguna dapat membuat profil pribadi, menambahkan pengguna lain sebagai teman, dan bertukar pesan, termasuk pemberitahuan otomatis ketika mereka memperbarui profilnya. Selain itu, pengguna dapat bergabung dengan grup pengguna dengan ketertarikan yang sama, diurutkan berdasarkan tempat kerja, sekolah atau perguruan tinggi, atau ciri khas lainnya, dan mengelompokkan teman-teman mereka ke dalam daftar seperti “Rekan Kerja” atau “Teman Dekat”. Di sinilah keunikan Facebook dibandingkan media sosial yang lainnya.

Pada bulan Maret 2018, The New York Times, bekerja sama dengan The Observer dan The Guardian, memperoleh “cache dokumen” dari dalam Cambridge Analytica, perusahaan data yang pada dasarnya dimiliki oleh Robert Mercer, ahli komputer dan mantan CEO Renaissance Technologies. Dokumen-dokumen tersebut membuktikan bahwa perusahaan, di mana mantan asisten Trump Stephen K. Bannon adalah anggota dewan Direksi, menggunakan data yang diperoleh secara tidak sah dari Facebook untuk membangun data base profil pemilih.



Laporan tentang skandal data dengan informasi dari mantan karyawan Cambridge Analytica yang menjadi whistleblower, Christopher Wylie, memberikan informasi yang lebih jelas tentang ukuran pengumpulan data, sifat dari informasi pribadi yang dicuri, dan komunikasi antara pihak Facebook, Cambridge Analytica, dan perwakilan politik yang mempekerjakan Cambridge Analytica untuk menggunakan data tersebut untuk mempengaruhi opini pemilih.

Bersambung ke halaman 2